Sponsor

Senin, 22 Oktober 2007

Status Awas Kelud

Pada Selasa 16 Oktober lalu saya berniat untuk mengetes mobil sedan suzuki estem yang baru saja masuk bengkel karena pada jumat mau di pakai kembali ke Solo maka perlu dilakukan testing jarak jauh supaya tidak mogok lagi di jalan, mumpung di rumah pada ngumpul adek adek yang cowok maka diputuskan untuk melakukan test mobil sambil bersilaturahmi dengan keluarga dengan rute Mojokerto-Jombang-Kandangan-Pare-Blitar-Malang-Sidoarjo dan kembali lagi ke Mojokerto , perjalanan dimulai pukul 09.00 menuju jombang dengan memutuskan mengambil jalur alternatif lewat Curahmalang menelusuri pinggiran rel kereta api , dan akhirnya niat untuk melihat kereta api kesampean juga , kurang lebih 4 buah kereta berhasil melintas di hadapan ku karena ternyata mobilku mogok lagi tepat di pinggir rel kereta api , setelah sempet diperbaiki 2 jam akhirnya mobilnya sehat lagi dan perjalanan di teruskan menuju Jombang.
permasalahan di duga karena sistem suply bahan bakar dan karburator yang kotor, akhirnya di putuskan untuk mengganti tutup bensin yang semula tidak ada lubang udaranya dengan tutup yang memiliki lubang udara dan berkunci, setelah mencari di Jombang di Kandangan sampai Pare tidak berhasil menemukan yang pas karena selain banyak toko onderdil yang masih tutup sehabis lebaran tipe tutup bensin suzuki estem ini termasuk aneh dan jarang ditemui di toko , setelah sampai di Pare , perjalanan dilanjutkan kembali menuju Blitar dengan mengambil jalur alternatif Pare-Wates-Srengat-Blitar.
tepat pukul 16:30 berangkat dari Pare dengan guyuran hujan deras yang tidak merata pukul 17:30 melewati kawasan Wates, sempat terlihat gunung Kelud disisi kiri atau timur nampak jelas di selimuti mendung terkena cahaya matahari senja dari arah barat namun diantara kita tidak ada yang tahu bahwa pada saat itu juga status Kelud ditingkatkan menjadi siaga 4 atau awas padahal kawasan Wates adalah kawasan bencana paling parah terkena hujan pasir kerikil dan aliran lahar dingin, pukul 18:30 perjalanan berakhir di Blitar situasi kota saat itu masih normal normal saja bahkan kita sempat menikmati masakan seafood kepiting dan udang asam manis di depan pasar Legi Blitar, setelah itu mulau beredar isu bahwa diperkirakan 2 jam kemudian kira kira pukul 10 malam gunung Kelud akan meletus yang di siarkan lewat radio lokal dan jaringan radio amatir , maka situasi kota mulai panik pom bensin mulai di serbu warga, termasuk supermarket banyak di serbu warga yang akan menyimpan cadangan makanan, roti dan indomie banyak di borong warga , ditambah sirine iring iringan mobilk truk polisi yang mulai berangkat untuk mengevakuasi warga di lereng gunung kelud dengan radius 10 Km dari bibir kawah makin menambah ketegangan warga Blitar , toko toko berangsur mulai tutup rumah rumah yang berada di pinggiran sungai lahar di sebelah barat alun alun blitar mulai mengemasi barang barangnya meraka takut kejadian letusan tahun 1966 terulang lagi memang pada letusan 1990 kejadian meluapnya lahar dan masuk kota tidak terjadi disebabkan dam atau jembatan penahan lahar yang ada disisi barat laut alun alun blitar itu jebol sehingga lahar langsung meluncur melewati kota namun saat ini kondisi dam dan jembatan itu telah di bangun dengan kontruksi yang lebih kuat justru inilah yang mengkhawatirkan warga kota blitar, saat dam atau jembatan mampu menahan aliran lahar maka ribuat kubik pasir akan tertahan di dam itu dan pendangkalan sungai akan cepat terjadi, saat datang banjir lahar lagi maka dapat dipastikan lahar akan meluap ke luar tanggul dan masuk kota.
saya sendiri panik ingin rasanya memutuskan untuk langsung kembali pulang malam itu dan membatalkan rencana ke Malang namun pihak keluarga di Blitar melarang dengan alasan lebih berbahaya di jalan apabila benar terjadi letusan malam itu saya pikir benar juga akhirnya saya memutuskan bermalam di Blitar dengan resiko apabila terjadi letusan malam itu kami tidak akan bisa pulang paling tidak 2-3 hari setelah letusan karena jalanan akan tertutup debu pasir setinggi kurang lebih 50 cm seperti pada letusan 1990, akhirnya mobil saya amankan di rumah kakap sepupu yang letaknya di perumahan yang jauh dari jalur lahar dengan resiko tetap terkene hujan abu dan pasir sehingga mobil terpaksa saya tutup menggunakan tikar yang lebar agar tidak terkubur pasir dan debu .
malam itu kami lalui dengan situasi tegang, tidur tak bisa namun rasa capek membalut tubuh setelah mendorong mobil dan memperbaikinya tadi siang, perasaan pasrah dan ingin merasakan situasi letusan Kelud di depan mata bercampur menjadi satu , sampai adzan subuh tiba, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi namun pagi itu warga Blitar masih khawatir beraktifitas mereka terus memantau kondisi Gunung kelud dari pos pantau lewat radio yang di laporkan 1 jam sekali, sampai pukul 8 pagi dimana matahari mulai terik warga mulai berani beraktifitas, pasar Legi di pusat kota Blitar mulai banyak yang buka, setelah makan pagi dan membantu pakde yang jualan di pasar Legi pada pukul 09:30 akhirnya kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Malang melewati Talun-Wlingi-Karangkates-Kepanjen-Malang.
Dengan perasaan lega perjalanan kita perkirakan memakan waktu 2 jam, sampai Karangkates kita beristirahat sejenak di pinggiran bendungan Ir Sutami yang digunakan untuk PLTU Karangkates setelah itu perjalanan dilanjutkan , ketika akan memasuki kota Kepanjen Markas Singo Edan ( Arema ) eeh mobilnya mogok lagi , biasa suzuki estem gak mau kena bensin kotor dikit aja ya udah dorong lagi dan mbengkel lagi deh setelah di bersihkan hampir 1 jam akhirnya mobil jalan lagi sampai wilayah Sukun tepatnya depan pom bensin sukun hampir masuk kota Malang eh mogok lagi
kali ini kami benar benar dibuat bingung mobil hanya bisa di pacu max 20 km/h diatas itu mesin langsung mati , gak ada pilihan laen akhirnya kita berjalan pelan pelan memasuki kota Malang sampai di rumah saudara di wilayah Bareng dekat museum Brawijaya Malang baru mobil di perbaiki , sampai pukul 16:00 mobil di rasa sehat kita lanjutkan silaturahmi ke Sengkaling tempat ibu kosnya adek yang kuliah di Unmuh Malang namun mobil sirasa kurang sehat juga saat pedal gas di lepas mobil langsung mati berapapun kecepatan mobil, ini sangat menyulitkan saat situasi macet atau ketika lampu merah maka diputuskan untuk istirahat di kosan adek setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Blitar yang seharusnya hanya 2 jam , karena kondisi jalan yang kita lewati kemudian adalah jalur Porong yang pasti macet maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang malam nanti sekitar pukul 9 malam agar jalanan lumayan sepi , akhirnya pukul 21:30 kami melanjutkan perjalanan pulang ke Mojokerto karena kondisi sudah malam maka rencanan mampir ke Sidoarjo kita batalkan perjalanan malang Mojokerto kita perkirakan 2 jam karena pertigaan Porong ke Mojokerto malam itu lancar maka tepat pukul 23:30 kami sampai dirumah kembali dengan selamat. benar benar perjalanan yang berkesan ya mobil takut mogok, takut kena letusan Kelud, dan takut macet lumpur Porong.

Tidak ada komentar: